Semangat Menjadikan Kota Malang Small Beautiful yang Powerfull

By | 08/01/2014

ed9a112dc06cbd022e17cb03b6d2186dSecara administratif, Kota Malang memang tidak seluas banyak daerah lain di Jawa Timur. Namun kota ini memiliki potensi besar bukan saja dari bidang ekonomi atau pariwisata, juga dari layanan pendidikan. Hadirnya banyak kampus negeri dan puluhan kampus swasta turut menopang kekuatan tersebut. Disamping ditopang pula oleh ratusan satuan pendidikan jenjang dini, dasar, dan menengah. Termasuk madrasah.

Maka tentu tidak berlebihan bila daerah ini meneguhkan diri sebagai Kota Pendidikan. Meski peneguhan itu bukan semata didasarkan pada jumlah lembaga pendidikan yang ada. Oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Dr H Rohmad MS MM, label sebagai kota pendidikan harus makin membuat Kota Malang menjadi lebih berwibawa. Dan salah satunya bisa ditopang dari satuan pendidikan madrasah.

Menjabat sebagai Ka Kankemenag Kota Malang pada 2012 lalu, Rohmad mengaku sangat bersemangat untuk menjadikan Kota Malang ini menjadi small beautiful yang powerfull. Yakni menjadikan kota yang kecil ini menjadi cantik dan berkekuatan serta berwibawa, salah satunya dengan semakin memberikan ruang bagi madrasah untuk mengaktualisasikan diri dalam segala potensi dan keberadaan madrasah. Berikut penuturannya kepada Sri Kurnia Mahiruni dari KORAN PENDIDIKAN saat ditemui di ruang kerjanya, pekan lalu.

Ini adalah pertama kalinya anda menakhodai Kantor Kementerian Agama Kota Malang, apa yang anda rasakan tentang Kota Malang khususnya pada madrasahnya?
Pertama kali yang saya lihat adalah adanya potensi besar yang dimiliki madrasah di Kota Pendidikan ini. Stigma Kota Pendidikan, menjadikan dunia pendidikan di kota ini sangat berkembang pesat mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. Dari sini madrasah pun memiliki peluang besar untuk lebih memberikan warna.

Warna seperti apa yang bisa diberikan madrasah?
Madrasah berkembang dengan kekhasan tersendiri yakni kecuali mengajarkan ilmu umum juga ilmu agama. Kesadaran masyarakat untuk membekali ilmu umum yang seimbang dengan ilmu agama pun semakin tinggi, sehingga posisi madrasah kian kuat. Apalagi dengan adanya ma’had yang sudah melengkapi keberadaan beberapa madrasah, sehingga  bisa semakin membidik masyarakat luar kota untuk belajar di Kota Malang.

Semangat apa yang anda usung untuk semakin meningkatkan  daya tarik madrasah tersebut?
Semangat untuk maju dan menjadikan Kota Malang ini menjadi small beautiful yang powerfull. Yakni menjadikan kota yang kecil ini menjadi cantik dan berkekuatan serta berwibawa, salah satunya dengan semakin memberikan ruang bagi madrasah untuk mengaktualisasikan diri dalam segala potensi dan keberadaan madrasah. Seperti teori yang dikembangkan oleh Abraham Maslow, kebutuhan tertinggi manusia sebenarnya adalah aktualisasi diri.

Ruang aktualisasi diri apa yang dibutuhkan oleh madrasah?
Banyak jalan yang bisa dijadikan sebagai ruang aktualisasi diri. Salah satunya melalui Pawai Akbar Muharram yang kami gelar belum lama ini. Antusias madrasah dalam kegiatan ini ternyata sangat luar biasa, melalui ruang inilah akahirnya mereka bisa mengaktualisasikan kemampuan dan keunggulan yang dimiliki sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan kebanggaan madrasahnya. Masih banyak ruang aktualisasi diri lainnya, salah satunya peringatan Hari Amal Bhakti ke-67 juga akan kami konsep untuk memaksimalkan aktualisasi diri madrasah.

Apakah aktualisasi diri tersebut sudah cukup untuk meningkatkan keberadaan madrasah?
Tentu saja tidak cukup. Hal lain yang saat ini juga kami gelorakan adalah semangat KKT, yakni kerja keras, kebersamaan dan tawakal. Jika nilai KKT ini bisa dipupuk maka saya yakin, prestasi madrasah akan semakin meningkat.

Bagaimana pandangan anda tentang perkembangan madrasah di Kota Malang saat ini?
Masih banyak sekali yang harus dibenahi. Memang benar ada sebagian madrasah di Kota Malang yang sudah berkembang pesat dan berprestasi, namun ini masih belum merata. Ada titik-titik tertentu yang menjadi kantung madrasah di Kota Malang justru kondisinya masih memprihatinkan. Kejomplangan ini tentu akan sangat berpengaruh pada kesenjangan atau gap terhadap IPM (Indeks Pembangunan Manusia).

Lalu langkah apa yang harus diambil untuk mengatasi kejomplangan IPM ini?
Setidaknya harus ada pemerataan dalam tiga hal, yakni menyangkut brainware, software, dan hardware. Brainware berkaitan dengan perangkat pikir. Untuk meningkatkan brainware sumber daya manusia (SDM)  ini, Kemenag telah mengembangkan beragam program diantaranya meningkatkan kualifikasi pendidikan guru menjadi S2 atau pun S3. Hal ini dengan memberikan dana talangan untuk mempermudah guru dalam hal dana. Kecuali peningkatan kualifikasi, brain wear juga ditingkatkan melalui beragam pelatihan dan seminar.

Seberapa pentingkah pengelolaan brainware tersebut?
Peningkatan brain wear ini sangat menentukan, karena berkaitan dengan sistem manajerial yang unggul untuk mengejar ketertinggalan madrasah. Mengingat madrasah saat ini masih dalam proses mengejar karena selama 30 tahun sejak tahun 1970 hingga 2000 tidak diopeni oleh pemerintah, karena saat itu dianggap tidak menguntungkan bagi kepentingan politik sebab ponpes memiliki idealisme sendiri yang kuat.

Bagaimana dengan software dan hardware?
Software sangat berkaitan dengan pemanfaatan IT untuk menunjang pembelajaran, baik penyediaan LCD proyektor, perpustakaan digital dan sebagainya. Sedangkan hardware berkaitan dengan sarana dan prasarana. Belum lama ini kami sudah menyalurkan bantuan sarana prasarana ke 15 titik. Untuk dua hal ini kami telah memberikan bantuan, namun kami akui masih kurang dari kebutuhan karena memangketerbatasan anggaran.

Apakah Kemenag tidak mampu menambah anggaran tersebut?
Jumlah anggaran yang menentukan adalah pusat, sehingga kami tidak mungkin menambahnya. Karena itu kami juga membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah, sebab APBD pasti jauh lebih besar anggarannya. Kecuali itu peran serta masyarakat juga sangat dibutuhkan, apalagi sebagian besar madrasah merupakan lembaga swasta mencapai 95 persen.

Kira-kira hal lain apalagi yang harus diperbaiki untuk meningkatkan kualitas madrasah?
Hal lain yang dibutuhkan adalah terkait pembinaan dalam hal kurikulum, kelmbagaannya misalnya utk pembinaan akreditasi, pelayanan evaluasi serta supervisi khusus yang dilakukan pengawas dengan rajin ke madrasah. Ada satu hal lagi yang tidak bisa disepelekan, yakni menghidupkan sel-sel madrasah  berupa Kelompok Kerja Guru atau Kelompok Kerja Madrasah. Walau kecil, sel-sel ini tidak boleh disepelekan keberadaannya.

Pertanyaan terakhir, harapan anda di Hari Amal Bhakti Kemenag ke-67 ini?
Meningkatkan profesionalime dn kinerja seluruh pegawai yang ada di bawah Kantor Kemenag untuk meningkatkan kualitas layanan dan turut berkontribusi pada pembangunan di negeri ini.(*)

http://dialog.koranpendidikan.com/view/2720/semangat-menjadikan-kota-malang-small-beautiful-yang-powerfull.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.