Buku telat, Guru Agama Repot Berburu Materi

By | 26/08/2014

Kurikulum 2013
MALANG- Menyiasati keterlambatan buku ajar Agama Kurikulum 2013, guru agama terpaksa harus mengajar dengan menggunakan buku pedoman KTSP atau kurikulum lama. Kondisi ini dinilai mengganggu proses belajar mengajar di dalam kelas. Selain itu, Dinas Pendidikan dinilai telah gagal dan mengesampingkan pelajaran agama. Sebab, mulai awal tahun ajaran baru hingga sekarang, belum ada kejelasan perihal buku tersebut.
Guru Agama SMPN 10 Malang, Achmad Jazuli  mengaku kesulitan dalam proses belajar mengajar. Pasalnya, buku agama yang terbaru belum bisa diperoleh, sehingga untuk sementara menggunakan buku KTSP dan soft copy materi 2013. ”Sebenarnya tidak ada perubahan drastis dari materi dan pola mengajar.  Namun, ini cukup menyulitkan bagi kami, sebab siswa tidak dapat belajar di rumah. Hanya pada saat di dalam kelas baru dapat materinya,” kata Jazuli saat menghadiri acara pembinaan guru agama, di Aula Tugu, Jumat (22/8) kemarin.
Dia menyebut, pendidikan agama bagi siswa sangatlah penting. Tidak hanya materi tersebut disampaikan pada jam pelajaran. Namun juga saat berada di rumah mereka juga belajar sendiri. Hal itu untuk mempercepat proses belajar di dalam kelas.
Alumnus UIN Maliki Malang itu menilai untuk penerapan pembelajaran dengan Kurikulum baru ini lebih gampang dan mudah. Mulai dari pokok bahasan atau materi, sampai cara pembelajarannya.
Pelajaran agama diberikan selama 4 jam setiap minggunya. Setiap kali proses belajar mengajar di dalam kelas, siswa harus mencatat dan belajar seadanya.
Guru lainnya, Muhammad Busri mengatakan jika buku ajar pelajaran lain sudah terlebih dahulu datang. Namun, untuk buku agama justru tanpa ada kejelasan. Sehingga banyak guru agama berinisiatif menggandakan sendiri dan diberikan kepada siswa.
“Kami disibukkan dengan pinjam ke teman guru lainnya. Padahal, buku mapel lain sudah terlebih dahulu datang, otomatis butuh dana tambahan lagi,” katanya.
Hal sama juga diungkapkan oleh Dedy Noviyanto guru Agama SMPN 3 Malang, untuk memberikan pelajaran agama kepada siswanya. Dedy rela fotocopy dan ngeprint materi dari soft copy yang didapat. Namun, tidak semua materi di gandakan, hanya per satu bab saja. “Kami harap bukunya segera tiba, karena bagaimanapun proses belajar di kelas kurang maksimal. Apalagi, siswa tidak fokus lantaran harus berbagi buku dengan lainnya,”tandasnya. (mik/oci)

http://www.malang-post.com/pendidikan/91016–buku-telat-guru-agama-repot-berburu-materi

Leave a Reply

Your email address will not be published.