ARTIKEL AKSI NYATA MODUL 1.4 PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

By | 04/02/2022

BUDAYA POSITIF MENDUKUNG PEMBELAJARAN LEBIH BERMAKNA

Oleh: NURUL QOMARIYAH, S.Pd.I, M.Pd

CGP KOTA MALANG, ANGKATAN 4, SMP NEGERI 11 MALANG

—————————————————————

Proses pembelajaran didalamnya terdapat interaksi yang baik antar peserta didik, pendidik dan sumber belajar dan terdapat proses perubahan perilaku berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang menjadi hasil latihan dan pengalaman. Pembelajaran yang bermakna akan langsung dirasakan oleh peserta didik saat belajar dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan penjelasan guru. Dan pengaruh dari pembelajaran yang bermakna akan menghasilkan informasi yang lebih lama diingat oleh peserta didik, informasi yang baru dibangun akan memudahkan proses belajar selanjutnya dan terbentuknya struktur pengetahuan yang baru.

Dalam membangun budaya positif, kita meninjau lebih mendalam tentang strategi yang menumbuhkan lingkungan yang positif di sekolah untuk mendukung pembelajan yang bermakna. Dengan cara melakukan berbagai upaya dan refleksi serta menerapkan tawaran strategi dalam praktik disiplin, kesungguhan mengontrol murid, menjalankan dalam menerapkan budaya positif. adanya konsep budaya positif akan sangat bermanfaat untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan dalam rangka mewujudkan merdeka belajar. Budaya positif meliputi 6 hal yaitu perubahan paradigma stimulus respon, konsep disiplin positif, keyakinan kelas, pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia, lima posisi control, dan segitiga restitusi.

Budaya positif akan menghasilkan pembelajaran yang bermakna apabila setiap komponen konsep dilaksanakan dan disesuaikan dengan kondisi, karena pendidik akan memperhatikan beberapa hal berikut terkait dengan konsep budaya positif yaitu:

Pertama, perubahan paradigma stimulus respon, Untuk membangun budaya yang positif, sekolah perlu menyediakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman agar murid-murid mampu berpikir, bertindak, dan mencipta dengan merdeka, mandiri, dan bertanggung jawab.

Kedua, konsep disiplin positif, Merupakan topik pembahasan tentang disiplin. Mereka berpendapat bahwa kalau saja anak-anak bisa disiplin, pasti mereka akan bisa belajar. Para guru juga berpendapat bahwa mendisiplinkan anak-anak adalah bagian yang paling menantang dari pekerjaan mereka Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa
bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal. Tiga Motivasi Perilaku Manusia yaitu Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya

Ketiga, keyakinan kelas. Keyakinan kelas dibentuk berisi peraturan-peraturan yang bersifat lebih ‘abstrak’ daripada peraturan pada umumnya, yang lebih rinci dan konkrit. Rincian keyakinan kelas sebagai berikut: Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal, Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif,   Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas, Keyakinan kelas sebaiknya sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan, Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan kelas dengan berpendapat. dan bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.

Keempat, pemenuhan lima kebutuhan dasar manusia  Setiap tindakan atau perilaku yang dilakukan di dalam kelas dapat menentukan terciptanya sebuah lingkungan positif. Perilaku warga kelas tersebut menjadi sebuah kebiasaan, yang akhirnya membentuk sebuah budaya positif. Untuk terbentuknya budaya positif pertama-tama perlu diciptakan dan disepakati keyakinan-keyakinan atau prinsip-prinsip dasar bersama di antara para warga kelas. Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Kelima, lima posisi control. Melalui serangkaian riset dan bersandar pada teori Kontrol Dr.
William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Orang Merasa Bersalah, Teman, Monitor (Pemantau) dan Manajer.

Keenam, segitiga restitusi Menstabilkan Identitas (Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan),  Validasi Tindakan yang Salah (Semua perilaku memiliki alasan) Menanyakan Keyakinan (Kita semua memiliki motivasi internal)

Konsep budaya positif ini sebaiknya disampaikan kepada tenaga pendidik yang ada di sekolah untuk diterapkan di setiap kelas, dimulai dari beberapa Bapak, ibu guru mata pelajaran, guru BK dan wali kelas. Terdapat banyak hal positif saat Budaya positif ini diterapkan antara lain: Penghargaan terhadap keunikan peserta didik lebih dihargai, Disiplin diri bukan lagi diartikan hukuman, akan tetapi lebih pada proses belajar, Melihat perilaku perilaku peserta didik dalam rangka memenuhi kebutuhan dasarnya, Menghargai Setiap perilaku peserta didik  memiliki tujuan, mewujudkan merdeka belajar  dengan menyusun keyakinan kelas dibentuk bersama, disepakati bersama dan untuk ditaati bersama dan lebih memahami bahwa Sumber Alasan perilaku manusia adalah untuk menghindari ketidak nyamanan, untuk mendapat imbalan/ penghargaan dan menjadi orang yang diinginkan sesuai nilai yang mereka percaya.

Semoga Artikel ini akan membawa hal positif dalam sistem belajar-mengajar di Lembaga yang mendukung Merdeka Belajar sesuai konsep Ki Hajar Dewantara! Salam Guru Penggerak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.